Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan

22 Januari, 2016

Kenapa Anak Buah Tidak Percaya Atasannya?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Kita tahu bahwa trust atau kepercayaan merupakan salah satu elemen penting dalam kepemimpinan. Tanpa kepercayaan, jangan harep deh kepemimpinan kita bakal efektif. Masalahnya, kita sering menghadapi fakta bahwa banyak sekali anak buah yang tidak mempercayai atasannya. Maka bisa dibayangkan, betapa amburadulnya hasil kepemimpinan di unit kerja seperti itu. Kalau anak buah Anda, percaya nggak kepada Anda?
 
Kita, boleh saja mengklaim bahwa anak buah pada percaya pada kita. Tapi, tidak mudah loh untuk membuktikan jika hal itu bukan sekedar klaim semata. Mestinya, hal itu tercermin pada pola hubungan dengan anak buah, serta perilaku kerja mereka. Contoh, jika mereka masih melakukan kesalahan atau tindakan yang kurang pas ketika tidak sedang kita awasi; maka itu menunjukkan bahwa kinerja bagus mereka selama ini bukan karena mereka percaya dan bisa dipercaya. Melainkan karena Anda tongkrongi.
 
Justru lebih baik jika kita menyadari dan mengakui bahwa anak buah belum benar-benar trust pada kita. Kesadaran ini menghindarkan kita dari ilusi merasa dipercaya oleh anak buah padahal sebenarnya tidak. Kalau sudah sadar situasinya, kita kan tinggal mencari solusinya saja. Sedangkan pimpinan yang tidak sadar jika anak buahnya tidak mempercayai dia masih harus menimbang-nimbang; “Apa iyya anak buah saya tidak trust sama saya? Akh, maaasa seeeeh…..”
 
Lalu apa tindakan selanjutnya setelah muncul kesadaran itu? Kita mesti paham apa penyebabnya. Supaya, solusinya bisa menyentuh akar masalahnya. Diantara banyak penyebab hilangnya kepercayaan anak buah kepada atasan, ada 2 hal yang paling besar efeknya dalam merusak kepercayaan anak buah pada atasan. Pertama, atasan sering mengumbar janji yang tidak ditepati. Jangankan melakukannya berulang-ulang. Cuman ngegombal sekali saja bisa membekas lama. Kita pun sama kok, nggak bisa percaya kepada manusia yang kata-katanya tidak bisa dipegang bukan?
 
Maka, jaaaangan sekali-kali menjanjikan sesuatu kepada anak buah yang tidak sanggup kita merealisasikannya. Kalau pun anak buah tidak menuduh atasannya sebagai tukang tipu, namun jauh dilubuk hatinya mereka tahu; bahwa atasannya itu bajindul. Sehingga tidak ada perlunya sama sekali untuk mempercayai kata-katanya. Sebab apapun yang dikatakan orang yang pernah mencederai janjinya; akan terdengar sebagai sebuah kebohongan. Anda tidak akan bisa membayangkan, betapa sulit dan beratnya pekerjaan seorang pemimpin yang dicap sebagai pembohong. Maka, hindarilah sikap seperti itu; supaya Anda tidak tersiksa saat menjalankan tugas kepemimpinan itu.
 
Penyebab utama kedua adalah; atasan itu tidak menunjukkan sikap percaya kepada atasannya yang lebih tinggi. Perhatikanlah bahwa setinggi apapun jabatan seseorang, biasanya dia juga adalah anak buahnya bagi orang yang jabatannya lebih tinggi dari dia kan? Maka kalau seorang atasan ingin dipercaya oleh anak buahnya, dia harus menunjukkan bagaimana cara percaya kepada atasan. Nanti anak buahnya akan meniru dia.
 
Anda, tentu ingin bisa menjalankan tugas kepemimpinan itu dengan nyaman kan? Diikuti dan dituruti oleh anak buah Anda, bukan karena mereka takut kepada Anda. Juga bukan karena mereka selalu berada dibawah pengawasan Anda. Melainkan karena Anda dan mereka saling percaya satu sama lain. Saling menjaga kepercayaan itu. Dan saling menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing. Jika Anda ingin situasi di unit kerja Anda seperti itu; maka Anda mesti memastikan bahwa Anda adalah orang yang layak untuk dipercaya oleh anak buah. Caranya? Camkanlah kedua hal yang sudah kita bahas diatas.
 
Catatan kaki:
Jangan ngarep bakal dipercaya anak buah kalau masih suka menelan ludah. Jangan ngarep bakal dipercaya anak buah, kalau kepada atasan sendiri saja tidak percaya. Karena kepercayaan tidak didapat dengan cara menuntutnya kepada orang lain. Melainkan dengan membangunnya melalui perilaku kita sendiri, yang layak dipercayai dan diikuti.
 
Sumber:
DEKA – Dadang Kadarusman  - 20 April 2015
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
 

14 Desember, 2012

Employee Empowerment - Pemberdayaan Karyawan

These are the ten most important principles for managing people in a way that reinforces employee empowerment, accomplishment, and contribution. These management actions enable both the people who work with you and the people who report to you to soar.

1. Demonstrate That You Value People

Demonstrate That You Value People for Empowering EmployeesPando Hall / Getty Images
Your regard for people shines through in all of your actions and words. Your facial expression, your body language, and your words express what you are thinking about the people who report to you. Your goal is to demonstrate your appreciation for each person's unique value. No matter how an employee is performing on his or her current task, your value for the employee as a human being should never falter and always be visible.

2. Share Leadership Vision

Empowered Employees Feel As If They Know the Big PictureCopyright Digital Vision / Getty Images
Help people feel that they are part of something bigger than themselves and their individual job. Do this by making sure they know and have access to the organization's overall mission, vision, and strategic plans.

3. Share Goals and Direction

Empowered Employees Are Clear About Goals and Expected OutcomesJacob Wackerhausen
Share the most important goals and direction for your group. Where possible, either make progress on goals measurable and observable, or ascertain that you have shared your picture of a positive outcome with the people responsible for accomplishing the results. If you share a picture and share meaning, you have agreed upon what constitutes a successful and acceptable deliverable. Empowered employees can then chart their course without close supervision.

4. Trust People

Empowerd Employees Are Trusted to Do the Right ThingPinnacle Pictures / Getty Images
Trust the intentions of people to do the right thing, make the right decision, and make choices that, while maybe not exactly what you would decide, still work. When employees receive clear expectations from their manager, they relax and trust you. They focus their energy on accomplishing, not on wondering, worrying, and second-guessing.

5. Provide Information for Decision Making

Empowered Employees Participate in Decision MakingDean Sanderson
Make certain that you have given people, or made sure that they have access to, all of the information they need to make thoughtful decisions.

6. Delegate Authority and Impact Opportunities, Not Just More Work

Delegation That Empowers Employees Is EffectiveImage Coypright Jacob Wackerhausen
Don't just delegate the drudge work; delegate some of the fun stuff, too. You know, delegate the important meetings, the committee memberships that influence product development and decision making, and the projects that people and customers notice. The employee will grow and develop new skills. Your plate will be less full so you can concentrate on contribution. Your reporting staff will gratefully shine - and so will you.

7. Provide Frequent Feedback

Empowered Employees Receive Regular FeedbackDigital Vision / Getty Images
Provide frequent feedback so that people know how they are doing. Sometimes, the purpose of feedback is reward and recognition as well as improvement coaching. People deserve your constructive feedback, too, so they can continue to develop their knowledge and skills.

8. Solve Problems: Don't Pinpoint Problem People

Empowered Employees Don't Fail on PurposeMichael Blann / Getty Images
When a problem occurs, ask what is wrong with the work system that caused the people to fail, not what is wrong with the people. Worst case response to problems? Seek to identify and punish the guilty. (Thank you, Dr. Deming.)

9. Listen to Learn and Ask Questions to Provide Guidance

Empower Employees by Asking Questions, Not By Telling Them What to DoSteve Cole
Provide a space in which people will communicate by listening to them and asking them questions. Guide by asking questions, not by telling grown up people what to do. People generally know the right answers if they have the opportunity to produce them. When an employee brings you a problem to solve, ask, "what do you think you should do to solve this problem?" Or, ask, "what action steps do you recommend?" Employees can demonstrate what they know and grow in the process. Eventually, you will feel comfortable telling the employee that he or she need not ask you about similar situations. You trust their judgment.

10. Help Employees Feel Rewarded and Recognized for Empowered Behavior

Recognition for Empowered Behavior Encourages Empowered EmployeesCopyright Lisa Gagne
When employees feel under-compensated, under-titled for the responsibilities they take on, under-noticed, under-praised, and under-appreciated, don’t expect results from employee empowerment. The basic needs of employees must feel met for employees to give you their discretionary energy, that extra effort that people voluntarily invest in work. For successful employee empowerment, recognition plays a significant role.


(sumber:  http://humanresources.about.com/od/managementandleadership/tp/empowerment.htm)

19 September, 2012

Decision Making

Decision Making. Demikian istilah kerennya. Mengambil keputusan. Sederhana sekali sebutannya. Namun, mengapa dalam prakteknya sering tidak sesederhana itu? Kita bisa sampai pusing tujuh keliling untuk mengambil sebuah keputusan? Sehingga untuk satu keputusan pun diperlukan waktu yang sangat lamaaaaaaa zekali. Wajar jika orang lain menyebut kita sebagai ‘sang pemimpin lemot’. Ada juga sih orang yang mudah dalam mengambil keputusan. Namun, saking mudahnya; keputusan yang sudah dibuat di pagi hari bisa berubah 180 derajat pada sore harinya. Demikianlah gambaraan dua kutub ekstrim para pemimpin dalam mengambil keputusan. Ini bukan kisah hayalan, melainkan realitas yang bisa kita temui sehari-hari.
 
Ada seorang raja yang ditanya wartawan; “Mengapa Yang Mulia belum juga mengambil keputusan, padahal semua punggawa kerajaan tidak bisa melakukan apapun tanpa keputusan raja?” Sahut sang raja;”Aku sedang mempertimbangkan keputusan mana yang akan aku ambil.” Wartawan pun bertanya; “Memangnya Yang Mulai punya berapa alternatif keputusan untuk diambil?” Dengan gagahnya sang raja menjawab; “Aku hanya punya satu pilihan.” Para wartawan menepuk jidat masing-masing; capek deh! Lelucon ini menggambarkan betapa jabatan seseorang tidak selalu menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengambil keputusan. Padahal, itu merupakan salah satu fungsi kepemimpinan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengambil keputusan, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini: 
 
1.      Nyaris tidak ada keputusan yang keliru. Salah satu penyebab utama sulitnya proses pengambilan keputusan adalah karena kita takut salah. Padahal, dalam kebanyakan situasi; ukuran kualitas sebuah keputusan bukanlah soal salah dan benar, melainkan soal manfaat yang bisa didapat dari keputusan itu dengan konsekuensi tertentu. Jika memutuskan A; akan dapat apa ongkosnya berapa? Jika memutuskan B juga sama. Tidak lebih dari itu. Maka prinsip pertama yang perlu kita pegang teguh dalam proses pengambilan keputusan adalah; yakinlah bahwa keputusan mana pun yang kita ambil adalah benar. Sehingga kita tidak perlu ragu ketika hendak memutuskan sesuatu. Dengan keyakinan itu, maka kita bisa konsisten sekaligus terbebas dari rasa was-was.
 
2.      Landasi dengan etika atau business conduct. Supaya tidak menjadi keblinger dan sok benar; dalam mengambil keputusan kita perlu menggunakan rambu-rambu tertentu. Bagaimana melakukannya? Gampang. Gunakan etika kerja atau business conduct sebagai landasannya. Segala keputusan yang diambil berdasarkan etika atau business conduct yang berlaku di perusahaan kita, dijamin kebenarannya. Kita tidak akan divonis bersalah karena mengambil keputusan yang sesuai dengan etika dan business conduct itu. Sebaliknya, sebaik apapun keputusan kita; jika tidak sesuai dengan business conduct, boleh jadi akan ditolak management. Anak buah takut mengimplementasikannya. Dan jika terjadi ekses negatif, kita tidak akan mendapatkan pembelaan dari sipapun. Pegang teguhlah business conduct, kita aman.
 
3.      Pahami kondisi umum sebelum terjadi masalah. Ada banyak keputusan yang harus kita ambil dalam tempo yang sangat singkat. Sehingga kita tidak selalu mempunyai banyak waktu untuk membuat pertimbangan ini dan itu. Kondisi seperti ini sangat sulit diatasi oleh pemimpin yang belum memahami situasinya seperti apa. Beda dengan pemimpin yang paham dengan situasinya. Meski kepepet waktu, dia bisa membuat keputusan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Jadi, milikilah pemahaman secara menyeluruh terhadap seluk belum wilayah tanggungjawab kita. Lagi pula, kan memang sudah menjadi tanggungjawab kita untuk memahami seluruh aspek terkait pekerjaan dan bagian-bagian dari tugas anak buah kita. Pemahaman itu akan menjadi referensi yang kokoh ketika suatu saat kelak kita dihadapkan pada masalah yang membutuhkan keputusan segera.
 
4.      Teliti detailnya dalam aktivitas sehari-hari.  Pemahaman terhadap detail situasi tidak cocok dilakukan pada saat kita dituntut untuk mengambil keputusan. Pemahaman terhadap detail sesuatu harus dilakukan melalui aktivitas harian kita. Hal ini tidak akan menjadi kendala, jika kita terbiasa terjun ke lapangan, alias tidak sekedar duduk manis di ruang kerja ber-AC kita. Coba perhatikan, bagaimana pemimpin hebat memahami kondisi lapangan. Mereka rajin turun dan terjun kesana. Perhatikan juga atasan yang jarang turun ke lapangan. Biasanya mereka ketinggalan detail informasi penting di wilayah tanggungjawabnya. Maka rajinlah ‘turun gunung’, karena itu akan meningkatkan pemahaman detail kita dan sangat berdampak pada kemampuan dalam mengambil keputusan penting.
 
5.      Mengambil tanggungjawab terdepan. Salah satu alasan mengapa atasan dibayar mahal adalah karena kitalah orang yang paling bertanggungjawab atas segala sesuatu yang terjadi dengan kelompok kerja yang kita pimpin. Apalagi menyangkut hasil atau konsekuensi dari keputusan yang kita ambil. Menyalahkan anak buah, sudah tidak jaman lagi. Selain menunjukkan sifat buruk yang doyan lari dari tanggungjawab, itu juga menyebabkan kita kehilangan kredibilitas dimata anak buah. Kelak, mereka tidak akan berani lagi mengimplementasikan keputusan kita karena takut dipersalahkan. Beda dengan atasan yang berani mengambil tanggungjawab terdepan. Selain dinilai profesional, juga lebih dipatuhi, diikuti dan dihargai oleh anak buahnya. Anak buah itu hanya pelaksana. Kitalah penanggungjawabnya.
 
Ada kalanya memang keputusan itu sangat penting. Tetapi derajat kepentingan sebuah keputusan sering kali hanya sebatas ‘pemencet tombol hijau’ saja. Artinya, anak buah tidak terlalu risau apakah kita mengambil keputusan A, B, atau C. Mereka hanya butuh kejelasan, agar tahu apa yang harus dikerjakan. Oleh karenanya, dalam proses pengambilan keputusan tidak usah bertele-tele. Gunakanlah ke-5 tahapan yang sudah kita bahas diatas. Lalu monitor implementasinya, sambil membiasakan diri dengan doa yang dicontohkan Rasulullah ini: “Ya Allah, aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Karena Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa. Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu. Dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.”
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman 9 Agustus 2012
Leadership and People Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
 

25 Juli, 2012

Kepemimpinan - Dahlan Iskan


Menjadi pemimpin itu dianggap enak. 
Menjadi pemimpin itu dianggap bisa berkuasa.

Tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa untuk bisa menjadi pemimpin yang baik sebenarnya harus pernah membuktikan dirinya pernah menjadi orang yang dipimpin.
Ketika menjadi orang yang dipimpin itu, dia juga bisa menjadi orang yang dipimpin dengan baik. Artinya untuk bisa menjadi pemimpin yang baik harus pernah menjadi anak buah yang baik.

Saya meragukan seseorang yang ketika menjadi anak buah tidak baik, dia bisa menjadi pemimpin yang baik. Menjadi anak buah yang baik itu adalah anak buah yang loyal tetapi juga kritis. Anak buah yang patuh tetapi juga bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik. Anak buah yang selalu bisa memberikan jalan keluar kepada atasannya. Anak buah yang bisa memberikan pemecahan masalah bagi atasannya. Bukan anak buah yang selalu merepotkan atasannya, anak buah yang selalu membikin masalah pemimpinnya dan anak buah yang selalu memberikan persoalan bagi pemimpinnya.

Jadi ketika menjadi anak buah, dia harus bisa menjadi anak buah yang baik, bukan menjadi bagian persoalan dari pemimpinnya, tetapi menjadi problem solver bagi pemimpinnya.

Nah… kalau seseorang itu pernah menjadi anak buah yang baik, dan dalam kurun waktu yang cukup, maka kelak ketika dia naik menjadi pemimpin, dia akan bisa menjadi pemimpin yang baik. Karena seorang pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik, maka dia bisa mengetahui bagaimana rasanya pernah menjadi anak buah.

Dengan demikian dia bisa tahu apa saja yang diperlukan anak buah dan bagaimana perasaan anak buah. Jadi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik.
Dahlan Iskan